Home / Fatwa / Hakikat Bid’ah

Hakikat Bid’ah

PERTANYAAN :
Apa itu bid’ah?

JAWABAN :
Bid’ah adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,

إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٌ فِي النَّارِ

“Hendaklah kalian menjauhi perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap yang sesat itu (tempatnya) di neraka” (HR. Abu Dawud dalam as-Sunnah, no.4607; Ibnu Majah dalam al-Muqaddimah, no. 42; Tambahan “dan setiap yang sesat itu (tempatnya dineraka)” pada riwayat an-Nasa’i dalam ‘Idain no. 1578).

Dengan demikian, semua ibadah, baik yang permulaan maupun yang berkesinambungan, pelakunya berdosa, karena sebagaimana dikatakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits tadi, “(tempatnya) di neraka” maksudnya, bahwa kesesatan itu menjadi penyebab untuk di adzab di dalam neraka. karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya terhadap bid’ah, maka dapat dipahami bahwa hal itu benar benar perusak, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan secara global dan tidak menyebut secara khusus, sebagaimana dalam sabda beliau tadi “setiap bid’ah adalah sesat”.

Kemudian dari itu, pada hakikatnya bid’ah itu merupakan kritikan yang tidak langsung terhadap syari’at Islam, karena melakukan bid’ah mengandung anggapan bahwa syari’at ini belum sempurna lalu si pelaku bid’ah itu menyempurnakannya dengan mengada-ngadakan hal baru dalam segi ibadah yang diklaimnya untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Kepada pelaku bid’ah kami katakan, setiap bid’ah adalah sesat dan setiap yang sesat itu tempatnya di neraka. Maka seharusnya menghindari semua bid’ah, dan hendaknya semua orang tidak beribadah kecuali apa yang telah ditetapkan Allah dan Rasulnya shallallahu alaihi wa sallam dan menjadikan beliau benar-benar sebagai penuntunnya. Sebab orang yang menempuh jalan bid’ah berarti telah menjadi menjadi pelaku sebagai penuntunnya dalam bid’ah tersebut di samping Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Wallahu waliyut taufiq.

___________

👤 Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin rahimahullah

📚 Al-Majmu’ Ats-Tsamin, juz 1, hal. 28-29

About Abdullah bin Suyitno

Avatar
Seorang tholabul ilmi di bumi Allah. | Kepala Bidang Pendidikan Bimbingan Islam (Agustus 2015 - Maret 2016 Berlanjut Januari 2017- Januari 2018) | Kepala Bidang Dakwah Offline Bimbingan Islam (Agustus 2015 - Maret 2016 Berlanjut Januari 2017- Januari 2018) | Kepala Divisi BiASTV (2017- Juli 2019) | Manajer Program CS Peduli (September 2018- Juli 2019) | Media Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad (Februari 2018 - Januari 2019) | Ketua HSI Media (Agustus 2019 - Sekarang)

Check Also

Diantara Buah Keimanan Kepada Qadha Dan Qadar

PERTANYAAN : Apakah mungkin, qadha dan qadar bisa membantu bertambahnya iman seorang Muslim? JAWABAN: Beriman …

Hukum Melanjutkan Studi Bagi Mahasiswi Yang Ditinggal Mati Suaminya

PERTANYAAN : Wanita yang ditinggal mati suaminya dan berkewajiban menjalani masa iddah, padahal ia seorang …

Kirim Pertanyaan ke Shahihfiqih.com