Home / Artikel / Tajamnya Lisan Menghambat Nasehat Teman

Tajamnya Lisan Menghambat Nasehat Teman

Manusia yang paling buruk adalah manusia yang dijauhi manusia karena keburukannya. Manusia menjauh disebabkan keburukan akhlaknya, keburukan perilakunya, keburukan kata-katanya, LISANNYA TAJAM BAK SEMBILU sehingga manusia tidak mau dekat dengannya

Jika demikian keadannya maka akibatnya sangat fatal… Yaitu NASEHAT YANG DATANG SANGAT TERBATAS.

“Boro-boro mau nyampaikan nasehat, ketemu saja malas. Kenapa? Buruk akhlaknya…Dia sudah tahu jika jumpa dengan si fulan pasti saja ada hati yang tersakiti…Pasti ada kata-kata yang menyakiti hati…Maka manusiapun tidak mau dekat dengannya…

RUGINYA BAGAIMANA? saluran nasehatpun terhambat.Bukankah kita menuju kesempurnaan itu dengan nasehat? Kita butuh nasehat orang lain. Para salaf terdahulu selalu meminta nasehat kepada teman-temannya. Padahal shahabat adalah orang yang dijamin masuk surga namun mereka tetap butuh nasehat bahkan nasehat dari orang yang lebih muda darinya. Ini menunjukkan ketinggian iman para shahabat yang sudah dijamin masuk surga namun masih takut. Jika kita yang dijamin masuk surga… nggak karuanlah jika kita sudah dijamin masuk surga!

Sepertinya iman kita tidak sanggup untuk menerima itu. Coba bayangkan jika kita dijamin masuk surga bagaimana tingkah laku kita besok? Nggak ngerti saya..

Begitu tingginya iman para shahabat… sudah dijamin masuk surga namun tetap butuh nasehat. Contohnya Umar bin Khattab yang minta nasehat dari Hudzaifah Ibnul Yaman ketika beliau bertanya ‘Wahai Hudzaifah apakah aku termasuk orang munafiq yang namanya disebut oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam?’ Bayangkan saja Umar yang sudah dijamin masuk surga masih bertanya meminta nasehat! Oleh karena itu kita butuh nasehat karena dengan cara seperti itu kita meraih kesempurnaan.

Kita bukan orang yang lepas dari dosa… setiap anak Adam bersalah. Tiap hari kita berbuat salah dan kita perlu masukan dan nasehat dari orang lain.

Dalam Sebuah ayat Allah Ta’ala berfirman yang artinya: ‘berilah peringatan sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang beriman.’ Kita butuh nasehat dari saudara-saudara kita. Kita butuh cermin untuk mengetahui kelebihan kita.

Apa jadinya seandainya saudara-saudara kita tidak mau memberi nasehat kepada kita…?Bahkan lari dari sisi kita menjauh dari kita…Tentunya nasehat yang kita harapkan pun semakin jauh…

Akibatnya apa? Kita merasa selalu benar… Merasa sudah baik dan merasa sudah sempurna!”

Imam Al Bukhari dalam Adabul Mufrad menjelaskan:
“manusia terburuk adalah yang ditakuti keburukannya.”

Shadaqah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Uyainah menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Ibnu Al Munkadir berkata:

سَمِعَ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عاَ ئِشَةَ أَخْبَرَتْهُ : اِسْتَأ ذَنَ رَجُلٌ عَلىَ النّبِيٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّم فَقَالَ: اِئْذَ نُوْا لَهُ ، بِئْسَ أَ خُوْ الْعَشِيْرَةِ،فَلَمَّاَ دَخَلَ ألاَنَ لَهُ الْكَلاَمَ، فَقُلْتُ: ياَ رَسُوْلَ اللهِ قُلْتُ الَّذِي قُلْتَ، ثُمَّ أَلَنْتَ الْكَلاَمَ، أَيْ عاَ ئِشَةُ، إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْ تَرَكَهُ النّاَسُ- أَوْ وضدَعَهُ النّاس- اِتِّقاَءَ فُحْشِهِ

Urwah bin Zubair mendengar Aisyah radhiyallahu anha mengabarkan kepadanya, “Seorang laki-laki meminta izin menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, ‘Izinkanlah dia masuk. Sungguh dia seburuk-buruk teman bergaul.’ Ketika lelaki itu masuk, Nabi shallallahu alaihi wa sallam melemah lembutkan perkataan kepadanya.Maka aku berkata, ‘Wahai Rasulullah engkau mengatakan apa yang engkau katakan, kemudian engkau melemahlembutkan perkataan kepadanya? Beliau bersabda, ‘Wahai Aisyah, sesungguhnya seburuk-buruk manusia adalah orang yang ditinggalkan manusia –atau dihindari manusia –karena takut akan kejahatannya.” (HR. Bukhari 78 dan Muslim 45) kitab Adabul Mufrad

Kandungan Hadits (Dari Rasyul Barad Syarah Adabul Mufrad) :
1. Hadits ini adalah dasar mengenai interaksi sosial.
2. Di dalam hadits ini terdapat pembolehan melakukan ghibah terhadap orang kafir, fasik dan orang-orang buruk lainnya agar orang lain bersikap hati-hati terhadap mereka.
3. Sedangkan melembutkan kata setelah lelaki itu masuk, itu adalah sebagai pendekatan agar tidak merusak keadaan keluarganya dan agar tidak bertambah jahat serta mengajak mereka menjauhi iman. Jadi bersikap lembut di sini adalah sebagai siyasah agama bukan untuk memperlihatkan orang yang berbeda dengan apa yang terdapat dalam bathinnya, beliau melemah lembutkan perkataan sehingga bertentangan dengan perkataan yang pertama.
4. Perbedaan antara “al mudahanah” dan “al mudaarah”. Al Mudaarah adalah berkorban untuk kebaikan dunia atau agama atau keduanya, hal ini dibolehkan atau bahkan sunnah. Sedangkan mudahanah meninggalkan agama untuk kepentingan dunia. Nabi mengorbankan kepentingan dunianya memperlakukan temannya dengan kelembutan dalam setiap perbuatan dan perkataannya, dan tidak memujinya dengan perkataan dan perkataan beliau tidak bertentangan dengan perbuatannya. “seburuk-buruk manusia adalah orang yang ditinggalkan manusia -atau dihindari manusia- karena takut akan kejahatannya.”

Manusia menghindar karena :

Keburukan akhlaknya…
Mungkin untuk menghindari ketajaman lisannya. Karena kata-katanya tajam bak sembilu…
Mungkin untuk menghindari kekasaran sikapnya…

Sangatlah merugi jika seseorang dijauhi oleh manusia, Ruginya adalah semakin tipis, semakin kecil pintu nasehat terbuka untuknya. Orang takut memberi nasehat karena keburukan akhlaknya.

____________________________

Ustadz Abu Ihsan Al Atsary, M.A

About Abdullah bin Suyitno

Seorang tholabul ilmi di bumi Allah. | Kepala Bidang Pendidikan Bimbingan Islam (Agustus 2015 - Maret 2016 Berlanjut Januari 2017- Januari 2018) | Kepala Bidang Dakwah Offline Bimbingan Islam (Agustus 2015 - Maret 2016 Berlanjut Januari 2017- Januari 2018) | Kepala Divisi BiASTV (2017- Juli 2019) | Manajer Program CS Peduli (September 2018- Juli 2019) | Media Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad (Februari 2018 - Januari 2019) | Ketua HSI Media (Agustus 2019 - Sekarang)

Check Also

Rugi Serugi-ruginya

Hasan Al-Basri rahimahullah berkata : ليأتين أناس يوم القيامة بحسنات أمثال الجبال فما يزال يؤ …

Yang Lebih Mulia

Imam Syafi’i rahimahullah berkata : أرفع الناس قدرا من لا يرى قدره، وأكثرهم فضلا من …

Kirim Pertanyaan ke Shahihfiqih.com