Home / Fatwa / Hukum Nadzar; Makruh Atau Haram?

Hukum Nadzar; Makruh Atau Haram?

PERTANYAAN :
Setelah seseorang menentukan nadzar dan arahnya; apakah boleh seseorang merubahnya bila mendapatkan arah yang lebih
berhak?

JAWABAN :
Akan saya kemukakan mukadimah terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan tersebut, yaitu bahwa tidak semestinya seseorang melakukan nadzar, sebab pada dasarnya hukum nadzar itu makruh ataupun diharamkan sebab Nabi melarangnya di dalam sabdanya,

إِنَّهُ لَا يَأْتِي بِخَيْرٍ وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيْلِ

“Sesungguhnya ia tidak pernah membawa kebaikan dan sesungguhnya ia hanya dikeluarkan (bersumber) dari orang yang bakhil” (HR. Bukhari dalam kitab Al-Iman (6608.6609), Muslim di dalam kitab An-Nadzar (1639.1640))

Maka, kebaikan yang Anda perkirakan terjadi dari nadzar itu, bukanlah nadzar itu sebagai penyebabnya.
Banyak orang yang bila sudah sakit, akan bernadzar untuk melakukan ini dan itu bila disembuhkan Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan bila sesuatu hilang, dia bernadzar untuk melakukan ini dan itu bila menemukannya kembali. Kemudian, bila dia ternyata disembuhkan atau menemukan kembali barang yang hilang tersebut, bukanlah artinya bahwa nadzar itu yang menyebabkannya akan tetapi hal itu semata berasal dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan Allah adalah Mahamulia dari sekedar kebutuhan akan suatu persyaratan ketika Dia dimintai.

Oleh karena itu, Anda wajib bermohon kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar disembuhkan dari sakit ini atau agar barang yang hilang ditemukan kembali. Sedangkan nadzar itu sendiri, ia tidaklah memiliki aspek apapun dalam hal ini. Banyak sekali orang-orang yang bernadzar tersebut, bila sudah mendapatkan apa yang dinadzarkan, kemudian bermalas-malasan untuk menepatinya bahkan barangkali tidak jadi melakukannya. Ini tentunya bahaya yang amat besar. Sebaiknya, dengarkanlah Firman Allah berikut,

وَمِنْهُ‍‍مْ مَّ‍‍نْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِ‍‍نْ فَ‍‍ضْلِهِ لَنَصَّدَّقَ‍‍نَّ وَلَنَكُونَ‍‍نَّ مِنَ الصَّالِحِينَ . فَلَ‍‍مَّ‍‍ا آتَاهُ‍‍مْ مِّ‍‍‍‍نْ فَ‍‍ضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُ‍‍مْ مُّ‍‍عْرِضُونَ . فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِ‍‍ي قُلُوبِهِمْ إِلَىٰ يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

“Dan di antara mereka ada orang yang berikrar kepada Allah: ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian dari karuniaNya kepada kami, pasti kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih.’ Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karuniaNya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai pada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepadaNya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.” (Qs. At-Taubah: 75-77)

Maka berdasarkan hal ini, tidak semestinya seorang mukmin melakukan nadzar.
Sedangkan jawaban atas pertanyaan di atas, maka kami katakan bahwa bila seseorang bernadzar sesuatu pada arah tertentu dan melihat bahwa yang selainnya lebih baik dan lebih diperkenankan Allah serta lebih berguna bagi para hambaNya, maka tidak apa-apa dia merubah arah nadzar tersebut ke arah yang
lebih baik.

Dalilnya adalah hadits tentang seorang laki-laki yang datang ke hadapan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah bernadzar akan melakukan shalat di Baitul Maqdis (Masjid Al Aqsha), bila kelak Allah menganugerahkan kemenangan kepadamu di dalam menaklukkan Mekkah.” Maka beliau menjawab, “Shalatlah di sini saja.” (Yakni Masjid Nabawi yang mana pahalanya lebih besar daripada shalat di masjid Al-Aqsha), kemudian orang tadi mengulangi lagi perkataannya, dan beliau juga tetap mengatakan, “Shalatlah di sini saja,” kemudian orang tadi mengulangi lagi perkataannya, lalu dijawab oleh beliau, “Kalau begitu, itu menjadi urusanmu sendiri.” (HR. Abu Daud didalam kitab Al-Iman, no, 3305)

Hadits ini menunjukkan bahwa bila seseorang berpindah dari nadzarnya yang kurang utama kepada yang lebih utama, maka hal itu boleh hukumnya

_____

👤 Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah

📚 Fatawa al-Mar ‘ah, hal. 68

About Abdullah bin Suyitno

Seorang tholabul ilmi di bumi Allah. | Kepala Bidang Pendidikan Bimbingan Islam (Agustus 2015 - Maret 2016 Berlanjut Januari 2017- Januari 2018) | Kepala Bidang Dakwah Offline Bimbingan Islam (Agustus 2015 - Maret 2016 Berlanjut Januari 2017- Januari 2018) | Kepala Divisi BiASTV (2017- Juli 2019) | Manajer Program CS Peduli (September 2018- Juli 2019) | Media Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad (Februari 2018 - Januari 2019)

Check Also

Hukum Bekerja Di Lembaga Ribawi Seperti Menjadi Satpam Atau Supir

PERTANYAAN : Apakah boleh hukumnya bekerja di lembaga ribawi seperti menjadi supir atau Satpam? JAWABAN …

Hukum Menjual Dan Mengoleksi Burung-Burung Dan Hewan-Hewan Yang Di Awetkan

PERTANYAAN : Dewasa ini muncul fenomena penjualan hewan-hewan dan burung-burung yang diawetkan. Oleh karena itu, …

Kirim Pertanyaan ke Shahihfiqih.com