Khutbah Jum’at: Keselamatan Nabi Yusuf dari Fitnah Syahwat yang Tidak Masuk Logika

Khutbah Pertama

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَ يُوسُفَ مِنْ مِصْيَدَةِ الفِتْنَةِ، وَأَعَاذَهُ مِنْ شَرَكِ الشَّهْوَةِ، فَصَانَ عِفَّتَهُ، وَرَفَعَ دَرَجَتَهُ، وَجَعَلَهُ مِنَ المُخْلَصِينَ الصَّادِقِينَ.

نَحْمَدُهُ حَمْدَ مَنْ عَرَفَ قَدْرَ نِعْمَتِهِ، وَنَسْتَغْفِرُهُ اسْتِغْفَارَ مَنْ عَظُمَتْ ذُنُوبُهُ، وَنَسْأَلُهُ السَّلَامَةَ مِنَ الفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، خَالِقُ النُّفُوسِ وَعَالِمُ مَا تُوسْوِسُ بِهِ الصُّدُورُ، يُقَلِّبُ القُلُوبَ وَيَصْرِفُ الأَبْصَارَ، بِيَدِهِ مَقَادِيرُ كُلِّ شَيْءٍ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَرْسَلَهُ رَبُّهُ بِنُورِ الهِدَايَةِ، وَسِرَاجِ العِفَّةِ، وَدِينِ الطُّهْرِ وَالتَّقْوَىٰ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral Muslimin wa Zumrotal Mu’minin…

Dari mimbar yang mulia ini, khatib mewasiatkan diri pribadi dan segenap jama’ah sekalian untuk terus bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan takut kepada-Nya, karena surga adalah tempat kembali orang yang takut akan kebesaran Rabbnya, dan mampu menahan diri dari hawa nafsunya. Allah Ta’ala berfirman:

وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ (٤٠) فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ

“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka surgalah tempat tinggalnya.”
(QS. An-Nazi‘at: 40–41)

Sidang Jama’ah Jum’at yang Allah muliakan…

Kita hidup di zaman yang penuh fitnah dan jebakan syahwat. Zaman di mana batas-batas kehormatan semakin dikaburkan, dan banyak kaum Muslimin—wal ‘iyadzu billah—tergelincir dalam dosa besar yang mengundang murka Allah, yaitu: zina.

Zina bukan sekadar dosa yang dampaknya menyerang pribadi. Ia adalah aib yang mencoreng keluarga, menghancurkan masa depan, merusak hati, dan menjatuhkan kehormatan pelakunya di mata masyarakat. Bahkan sebelum azab akhirat, Allah timpakan kesempitan hidup dan kegelisahan hati bagi pelakunya di dunia.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا

“Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang sangat buruk.” (QS. Al-Isra: 32)

Zina bukan hanya dosa, tapi jalan kehancuran. Maka betapa mulianya orang yang mampu menjaga kehormatan dirinya dalam gelombang fitnah seperti sekarang.

Dan di antara teladan agung dalam hal ini adalah Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Seorang pemuda tampan, jauh dari keluarganya, berada di negeri asing, digoda oleh seorang wanita bangsawan, namun ia tetap memilih takut kepada Allah daripada menuruti hawa nafsu.

Ikhwatal Iman…

Pada kesempatan ini, marilah kita tadabburi kisah beliau. Agar kita belajar bagaimana bersabar dalam menjaga kehormatan, dan menjadikan rasa takut kepada Allah sebagai benteng dari maksiat. Karena kemuliaan sejati bukan milik mereka yang terkenal atau diidolakan dunia, tapi bagi mereka yang mampu menahan diri di hadapan dosa ketika tidak ada yang melihat, kecuali Allah.

Allah Ta’ala menceritakan kepada kita tentang kisah wanita al-‘Aziz yang jatuh cinta kepada Yusuf, bagaimana ia merayunya dan hampir saja berhasil menjebaknya. Namun Allah juga mengabarkan kepada kita tentang keadaan yang dicapai Nabi Yusuf ‘alaihissalam berkat kesabaran, keteguhan, dan takwanya. Padahal ujian yang beliau hadapi itu termasuk ujian berat yang tak akan mampu ditanggung kecuali oleh orang yang benar-benar diberi pertolongan oleh Allah.

Sebab, perbuatan maksiat biasanya terjadi karena dua faktor utama: dorongan nafsu yang kuat dan hilangnya penghalang. Dan dalam kisah ini, dorongan nafsu itu hadir dari bebebagai sisi dengan kekuatan yang luar biasa, yang secara logika, jika bukan karena pertolongan Allah, niscaya seseorang akan jatuh dalam perbuatan dosa besar ini.

Pertama: Nabi Yusuf ‘alaihissalam adalah lelaki yang secara fitrah memang memiliki kecenderungan kuat terhadap perempuan, seperti dahaga yang ingin segera diberikan minum, atau rasa lapar yang mendesak untuk dipuaskan. Bahkan banyak orang yang masih bisa menahan lapar dan haus, tetapi tidak mampu menahan diri dari godaan perempuan.

Kedua: Nabi Yusuf saat itu masih muda, dan nafsu syahwat pemuda jauh lebih kuat daripada orang tua.

Ketiga: Beliau belum memiliki istri atau budak perempuan yang bisa meredakan gejolak syahwatnya.

Keempat: Beliau berada di negeri asing, di mana seorang pendatang lebih mudah menuruti hawa nafsunya daripada ketika berada di lingkungan keluarga dan kerabat.

Kelima: Perempuan yang menggodanya adalah wanita bangsawan dan memiliki paras yang sangat cantik, dua hal yang masing-masing saja sudah cukup menggoda.

Keenam: Perempuan itu tidak menolak atau malu-malu. Banyak laki-laki justru kehilangan gairah jika wanita menolak, namun ada pula yang makin tergila-gila jika ditolak. Beragam tabiat manusia dalam hal ini. Ada yang makin mencintai saat wanita menunjukkan hasrat dan kelembutan, dan sebaliknya ada yang semakin membara ketika ditolak.

Ketujuh: Dalam kasus ini, wanita itu sendiri yang meminta, merayu, dan berusaha keras. Sehingga Yusuf tidak perlu bersusah payah meminta. Justru dialah yang diinginkan dan dikejar.

Kedelapan: Yusuf tinggal di rumah wanita itu dan berada di bawah kekuasaan serta pengaruhnya. Jika beliau menolak, bisa jadi akan disakiti. Maka berkumpullah dua dorongan: keinginan karena nafsu dan rasa takut karena tekanan.

Kesembilan: Tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk membocorkan perbuatannya. Wanita itu sendiri yang menginginkannya dan telah menutup semua pintu serta menjauhkan semua orang.

Kesepuluh: Nabi Yusuf dianggap budak di rumah itu. Masuk keluar rumah adalah hal biasa, dan kebersamaan mereka bukan sesuatu yang mencolok. Bahkan seorang wanita mulia dari kalangan Arab pernah ditanya, “Apa yang membuatmu sampai jatuh ke dalam perzinaan?” Ia menjawab:

قُرْبُ الوِسَادِ، وَطُولُ السَّوَادِ

“Karena dekatnya bantal dan lamanya malam.” Yakni karena tidur berdekatan terlalu sering dan terlalu lama.

Kesebelas: Wanita itu juga melibatkan teman-temannya—para wanita lain yang juga bangsawan dan berparas cantik—untuk menekan Yusuf. Ia perlihatkan ketampanan Yusuf kepada mereka dan mengeluh tentang cintanya, dengan harapan mereka bisa membujuk Yusuf. Maka Yusuf pun berlindung kepada Allah dan berkata:

وَإِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّي كَيۡدَهُنَّ أَصۡبُ إِلَيۡهِنَّ وَأَكُن مِّنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ

“Jika Engkau (wahai Rabb) tidak hindarkan aku dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.” (QS. Yusuf: 33)

Keduabelas: Wanita itu juga mengancam Yusuf dengan penjara dan kehinaan. Ini adalah bentuk paksaan, karena wanita ini adalah bangsawan yang sangat mudah memutar balikkan fakta, menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah. Sehingga dengan kekuasaannya ini, ia benar-benar sangat mampu menjerumuskan Yusuf ke dalam penjara, meskipun tanpa kesalahan.
Maka berkumpullah dua dorongan pada diri Yusuf: dorongan syahwat dan dorongan ingin selamat dari hukuman.

Ketigabelas: Suaminya—al-‘Aziz—tidak menunjukkan kecemburuan yang tegas. Ia tidak memisahkan Yusuf dari istrinya atau mengambil sikap yang membuat mereka berjauhan. Ia hanya berkata kepada Yusuf:

يُوسُفُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَاۚ

“Wahai Yusuf! Lupakanlah saja ini.” (QS. Yusuf: 28)

Dan kepada istrinya:

‎وَٱسۡتَغۡفِرِي لِذَنۢبِكِۖ إِنَّكِ كُنتِ مِنَ ٱلۡخَاطِـِٔينَ

“Mintalah ampunan atas dosamu. Engkau benar-benar termasuk orang-orang yang bersalah.” (QS. Yusuf: 29).

Padahal, rasa cemburu yang kuat adalah salah satu penghalang terkuat dari perzinaan, dan ini tidak tampak pada sang Suami.

Dengan semua dorongan yang begitu besar, Yusuf tetap lebih memilih keridhaan Allah. Rasa takut dan cinta kepada Allah yang memenuhi hatinya membuatnya rela memilih penjara daripada terjatuh ke dalam dosa. Beliau berkata:

قَالَ رَبِّ ٱلسِّجۡنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدۡعُونَنِيٓ إِلَيۡهِۖ

“Wahai Rabbku, penjara lebih aku cintai daripada ajakan mereka kepadaku.” (QS. Yusuf: 33)

Yusuf tahu bahwa dirinya tidak akan mampu menahan semua itu kecuali jika Allah yang menjaganya. Beliau berkata:

وَإِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّي كَيۡدَهُنَّ أَصۡبُ إِلَيۡهِنَّ وَأَكُن مِّنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ

“Jika Engkau (wahai Rabb) tidak hindarkan aku dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.” (QS. Yusuf: 33)

Ini adalah bukti sempurnanya pengetahuan Yusuf terhadap Tuhannya dan terhadap kelemahan dirinya.

Kisah ini menyimpan lautan pelajaran, hikmah, dan ibrah yang tak terhitung jumlahnya.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنْ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْعَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّىٰ يُوسُفَ مِنَ الفِتْنَةِ، وَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَ النِّسْوَةِ، فَآثَرَ السِّجْنَ عَلَىٰ مَعْصِيَتِهِ، فَكَانَ مِنَ العَابِدِينَ الصَّادِقِينَ.

نَحْمَدُهُ تَعَالَىٰ حَمْدًا يَلِيقُ بِجَلالِهِ، وَنَسْتَغْفِرُهُ اسْتِغْفَارَ مَنْ خَافَ وَرَجَا، وَنَسْأَلُهُ السَّتْرَ وَالعَافِيَةَ مِنَ الفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَرْسَلَهُ رَبُّهُ هُدًى وَرَحْمَةً وَنُورًا لِمَنْ يَسْتَبْصِرُ وَيَهْتَدِي، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral Muslimin wa Zumrotal Mu’minin…

Dalam doa Nabi Yusuf ‘alaihissalam:

رَبِّ ٱلسِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِيٓ إِلَيْهِ

“Wahai Rabbku, penjara lebih aku cintai daripada (perbuatan maksiat) yang mereka ajak aku kepadanya.” (QS. Yusuf: 33)

Terdapat pelajaran sangat berharga: sekuat apapun iman seseorang, bahkan jika ia seorang Nabi, tetap harus menjauh dari tempat-tempat fitnah. Maka lihatlah Yusuf ’alaihissalam—seorang Nabi yang maksum—lebih memilih hidup di balik jeruji penjara yang sempit, daripada hidup di istana penuh fasilitas yang penuh godaan. Sebab di penjara, ia selamat dari fitnah. Sedangkan di istana, meski nyaman, jiwanya terancam oleh dosa besar.

Inilah pelajaran untuk kita: jangan pernah merasa aman dari jebakan maksiat. Jangan terlalu percaya diri dengan kekuatan iman. Yang paling aman adalah menjauh dari sumber fitnah, sebelum kita tergelincir dan menyesal seumur hidup.

Ummatal Islam…

Ada 7 golongan yang kelak Allah akan naungi pada hari yang tidak ada naungan selain naungan Allah. Salah satunya adalah:

وَرَجُلٌ دَعَتْهُ ٱمْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ ٱللَّهَ

“Seorang laki-laki yang diajak berzina oleh wanita bangsawan dan cantik, lalu ia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’.” (HR. Bukhari, no. 6806 dan Muslim, no. 1031)

Nabi Yusuf adalah pemimpin golongan ini. Ia menolak ajakan wanita bangsawan yang cantik rupawan, bukan karena tidak mampu, tapi karena takut kepada Allah. Itulah iman sejati: takut kepada Allah meski ada kesempatan dan tidak ada orang yang melihat.

Ma’asyiral Muslimin…

Bertakwalah kepada Allah! Lindungilah diri dan keluarga dari api neraka. Zaman hari ini penuh jebakan syahwat. Dosa semakin mudah diakses, bahkan dari dalam rumah. Maka waspadalah! Jauhilah tempat-tempat fitnah, jangan datangi tempat yang bisa menggoyahkan iman.

Mulailah dari menundukkan pandangan.
Jagalah mata, karena dari situlah pintu maksiat sering terbuka. Jangan biarkan pandangan menjadi sebab kelalaian dan kehancuran.

Carilah lingkungan dan teman yang shalih.
Teman yang baik akan menguatkan iman, mencegah kita dari keburukan, dan mengingatkan kita saat mulai lengah.

Jangan tukarkan masa depan kita—akhirat yang abadi—dengan dosa sesaat yang dampaknya menghantui jiwa selamanya. Nikmat maksiat itu sementara, tapi penyesalannya panjang dan mendalam. Lindungi hati kita, jaga iman kita, dan mohonlah selalu perlindungan kepada Allah seperti yang dilakukan Nabi Yusuf ‘alaihissalam.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ إِذَا أُغْرُوا بِالذَّنْبِ تَذَكَّرُوا، وَإِذَا دُعُوا إِلَى الْفِتْنَةِ تَوَقَّفُوا، وَإِذَا خَلَوْا بِكَ خَافُوا.

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَاحْفَظْ أَبْصَارَنَا، وَجَنِّبْنَا سُوءَ الْخَوَاتِيمِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيُّهُ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ، فَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ، وَعَنِ التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمِنِّكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، وَيَا قَاضِي الْحَاجَاتِ.

اللَّهُمَّ ٱقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ ٱلْيَقِينِ مَا يُهَوِّنُ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ ٱلدُّنْيَا، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَٱجْعَلْهُ ٱلْوَارِثَ مِنَّا، وَٱجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَىٰ مَنْ ظَلَمَنَا، وَٱنْصُرْنَا عَلَىٰ مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ ٱلدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.

اللَّهُمَّ أَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ، اللَّهُمَّ أَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ، فِي فِلَسْطِينَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى الْيَهُودِ، رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ، فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ، وَجَنِّبْهُمْ بِطَانَةَ السُّوءِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ ٱلِلَّهَ يَأْۡمُرُ بِٱلِۡعَدْۡلِ وَٱلِۡإِحْۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلِۡقُرْۡبَىٰ وَيَنْۡهَىَٰ عَنِ ٱلِۡفَحْۡشَآءِ وَٱلِۡمُنْكَرِ وَٱلِۡبَغٍّۡيِۚ يَعِظُكُمْۡ لَعَلَّكُمْۡ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ الْجَلِيلَ يُذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلِذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. أَقِمِ الصَّلَاةَ..

(Terinspirasi dari nasehat yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 482-487)