Home / Fatwa / Kebutuhan Manusian Terhadap Dakwah

Kebutuhan Manusian Terhadap Dakwah

PERTANYAAN :
Apakah Syaikh yang mulia beranggapan bahwa masyarakat sekarang lebih bisa menerima dakwah daripada yang dulu, artinya, bahwa sekarang tidak ada lagi yang disebut sebagai dinding pembatas antara dakwah dengan masyarakat?

JAWABAN :
Masyarakat sekarang lebih membutuhkan dakwah. Mereka pun menyambutnya karena banyaknya orang yang mengajak kepada kemaksiatan, merambahnya sekte-sekte komunisme dan karena besarnya pengaruh seruan dakwah yang agung ini di tengah-tengah kaum Muslimin. Jadi, masyarakat sekarang lebih cenderung untuk memeluk Islam dan mempelajarinya. Demikian sebagaimana yang kita saksikan di seluruh dunia.

Saran saya kepada para ulama dan para praktisi dakwah, hendaknya mereka memanfaatkan kesempatan, mengerahkan segala kemampuan mereka untuk berdakwah dan mengajari manusia tentang tujuan penciptaan manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah dan mentaatiNya, baik itu disampaikan secara lisan, tulisan maupun cara lainnya pada momen-momen tertentu, melalui karya-karya tulis, melalui media massa yang bisa dibaca atau didengar ataupun dilihat. Seorang alim atau dai harus memanfaatkan kesempatan ini untuk menyampaikan dakwah dengan segala media yang dibenarkan syari’at dan media itu sangat banyak, alhamdulillah. Jadi, jangan sungkan untuk berdakwah dan mengajar, karena masyarakat sekarang sedang menyambut apa saja yang dikatakan kepada mereka, yang baik maupun yang buruk. Maka, para ulama hendaknya menggunakan kesempatan ini untuk mengarahkan manusia kepada kebaikan dan tuntunan dengan landasan yang kuat dari Kitabullah dan Sunnah RasulNya shallallahu alaihi wa sallam. Hendaknya pula, setiap dai berambisi untuk mengetahui setiap hal yang didakwahkannya dari mempelajari al-Kitab dan as-Sunnah dan telah memahaminya dengan benar, sehingga tidak menyeru manusia tanpa ilmu, tapi berdasarkan hujjah yang nyata, Allah subhanahu wata’ala telah berfirman,

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ

“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata” (Qs. Yusuf: 108)

Syarat utamanya adalah, hendaknya seorang alim atau seorang dai memiliki ilmu yang mapan (hujjah yang nyata), menguasai apa yang diserukan dan diperingatkannya. Jangan sampai menyepelekan hal ini, karena memang ada sebagian orang yang kadang meremehkan segi ini sehingga akibatnya ia mengajak kebatilan dan melarang yang haq. Dari itu, harus mantap dalam semua perkara dan hendaknya dakwahnya itu dibangun berdasarkan ilmu, tuntunan dan penguasaan dalam segala permasalahannya.

____________

👤 Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah

📚 Majalah al-Buhuts al-Islamiyyah, edisi 40, hal.143-144

About Abdullah bin Suyitno

Seorang tholabul ilmi di bumi Allah. | Kepala Bidang Pendidikan Bimbingan Islam (Agustus 2015 - Maret 2016 Berlanjut Januari 2017- Januari 2018) | Kepala Bidang Dakwah Offline Bimbingan Islam (Agustus 2015 - Maret 2016 Berlanjut Januari 2017- Januari 2018) | Kepala Divisi BiASTV (2017- Juli 2019) | Manajer Program CS Peduli (September 2018- Juli 2019) | Media Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad (Februari 2018 - Januari 2019) | Ketua HSI Media (Agustus 2019 - Sekarang)

Check Also

Hukum Melanjutkan Studi Bagi Mahasiswi Yang Ditinggal Mati Suaminya

PERTANYAAN : Wanita yang ditinggal mati suaminya dan berkewajiban menjalani masa iddah, padahal ia seorang …

Hukum Mengumumkan Berita Duka Di Koran

PERTANYAAN : Sebagian orang ada yang mengumumkan berita duka tentang kematian kerabatnya di koran-koran dengan …

Kirim Pertanyaan ke Shahihfiqih.com