Home / Fatwa / Hukum Tidak Mengingkari Kemungkaran Karena ia Sendiri Melakukannya

Hukum Tidak Mengingkari Kemungkaran Karena ia Sendiri Melakukannya

PERTANYAAN :
Ketika dikatakan, “Kenapa anda tidak mengingkari kemungkaran? ” Ada yang mengatakan, “Bagaimana saya mengingkarinya sementara saya melakukannya.”

Lalu ia berdalih dengab Firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri?” (Qs. Al-Baqarah: 44)

Dan hadits yang menyebutkan tentang seorang laki-laki yang isi perutnya keluar di neraka. Bagaimana membantah orang yang seperti itu?

JAWABAN :
Kami katakan; Sesungguhnya manusia telah diperintahkan untuk meninggalkan kemungkaran dan diperintahkan untuk mengingkari pelaku kemungkaran. Jika ternyata ia tidak meninggalkan kemungkaran, ia tetap memiliki kewajiban lainnya, yaitu mengingkari pelaku kemungkaran. Adapun yang disebutkan didalam ayat tadi, itu merupakan celaan yang ditujukan kepada yang menyuruh orang lain berbuat baik tapi ia sendiri tidak melakukannya (padahal dia mampu untuk melakukannya), bukan karena ia menyuruh mereka. Karena itulah disebutkan,

أَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

“Maka tidaklah kamu berpikir?” (Qs. Al-Baqarah: 44).

Apakah masuk akal seseorang bisa menyuruh orang lain berbuat baik sementara ia sendiri tidak melakukannya?
Tentu ini tidak masuk akal dan bertentangan dengan syari’at. Jadi larangan itu bukan mencegah mengajak orang berbuat baik, tapi larangan memadukan keduanya, yaitu menyuruh orang lain sementara ia sendiri tidak melakukan.
Demikian juga yang tersebut dalam hadits tadi, yaitu ancaman keras dicampakkan kedalam neraka sehingga ususnya terurai, lalu para penghuni neraka mengerumuninya, lalu dikatakan kepada mereka, bahwa orang tersebut menyerukan kebaikan tapi ia sendiri tidak melakukannya dan mencegah kemungkaran tapi ia sendiri malah melakukannya. Ini juga menunjukkan bahwa orang tersebut terkena siksaan ini, tapi jika ia tidak mengingkarinya, bisa jadi siksaannya lebih berat.

______

👤 Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah

📚 Alfazh wa Mafahim fi Mizan Asy-Syari’ah, hal 32-33

About Abdullah bin Suyitno

Seorang tholabul ilmi di bumi Allah. | Kepala Bidang Pendidikan Bimbingan Islam (Agustus 2015 - Maret 2016 Berlanjut Januari 2017- Januari 2018) | Kepala Bidang Dakwah Offline Bimbingan Islam (Agustus 2015 - Maret 2016 Berlanjut Januari 2017- Januari 2018) | Kepala Divisi BiASTV (2017- Juli 2019) | Manajer Program CS Peduli (September 2018- Juli 2019) | Media Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad (Februari 2018 - Januari 2019)

Check Also

Bantahan Terhadap Ucapan: “Bila Hadits Sesuai Akal Maka Ia Shahih dan Bila Tidak, Berarti Tidak Shahih”

PERTANYAAN : Bagaimana membantah kebid’ahan ucapan seseorang, “Bila suatu hadits sesuai dengan akal maka dia …

Bagaimana Mengingkari Kemungkaran Dengan Hati?

PERTANYAAN : Bagaimana mengingkari kemungkaran dengan hati? JAWABAN : Yaitu membenci kemungkaran dan tidak bergaul …

Kirim Pertanyaan ke Shahihfiqih.com