Home / Fatwa / Hukum Berqurban Untuk Si Mayit

Hukum Berqurban Untuk Si Mayit

Donasi Dakwah Shahihfiqih.com

PERTANYAAN :

ما حكم الأضحية عن الميت؟

Apa hukumnya berkurban untuk orang yang telah meninggal?

JAWABAN :

الأضحية عن الميت إذا كان قد أوصى بها، فإنه يضحى بها عنه، وإذا كان لم يوص بها ،فالدعاء له أفضل من أن يضحى له، فالمشروع أن الأضحية عن الأحياء ،فقد كان النبي -صلى الله عليه وسلم- يضحي بالشاة عنه وعن أهل بيته، وأنت إذا ضحيت بالشاة عنك وعن أهل بيتك ونويت بها كل أهل بيتك، وأقاربك الذين ماتوا فلا بأس؛ لأنهم يدخلون في العموم، وأما تخصيص الميت بأضحية تبرعاً من عندك، فإن هذا ليس من هدي النبي -صلى الله عليه وسلم- إذ لم يضح النبي -صلى الله عليه وسلم- عن زوجته خديجة -رضي الله عنها- مع أنها من أحب النساء إليه، ولم يضح عن عمه حمزة -رضي الله عنه- مع أنه من أحب الناس إليه، ولم يضح عمن مات من أقاربه وبناته، فدل ذلك على أن هذا ليس بمشروع، ولكن لو أن إنساناً فعل فإننا لا نعيبه، بل نرشده إلى ما هو أفضل، وهو الدعاء للميت.

Apabila mayit telah berwasiat agar berkurban untuknya (atas namanya), maka hal tersebut boleh dilakukan. Namun jika dia tidak pernah berwasiat supaya melakukan hal tersebut, maka mendoakannya lebih utama daripada berkurban untuknya. Karena yang disyariatkan adalah berkurban untuk orang yang masih hidup.

Dahulu Nabi shallallahu alaihi wasallam berkurban untuk beliau dan keluarganya. Sehingga jika anda berkurban dengan seekor kambing untuk dirimu dan keluargamu dengan meniatkan untuk seluruh keluargamu serta kerabat yang telah meninggal maka tidak mengapa. Karena mereka masuk dalam keumuman (niat tersebut).

Adapun mengkhususkan kurban untuk mayit sebagai bentuk sedekah darimu, maka ini bukanlah petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Karena beliau tidak pernah berkurban untuk istrinya Khadijah (secara khusus) padahal khadijah termasuk wanita yang paling beliau cintai. Tidak pula beliau berkurban untuk pamannya Hamzah sementara ia termasuk orang yang paling beliau cintai atau untuk kerabat dan putrinya yang telah meninggal.

Semua ini menunjukkan bahwa perbuatan di atas tidaklah disyariatkan. Namun apabila ada seseorang yang melakukannya, maka kita tidak akan mencelanya. Namun kita mengarahkannya kepada ibadah yang lebih utama,  yaitu mendoakan kebaikan untuk mayit.

________________________________

  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah
  • Liqa al-Bab al-Maftuh 52

About Abdullah bin Suyitno

Avatar
Seorang tholabul ilmi di bumi Allah. | Kepala Bidang Pendidikan Bimbingan Islam (Agustus 2015 - Maret 2016 Berlanjut Januari 2017- Januari 2018) | Kepala Bidang Dakwah Offline Bimbingan Islam (Agustus 2015 - Maret 2016 Berlanjut Januari 2017- Januari 2018) | Kepala Divisi BiASTV (2017- Juli 2019) | Manajer Program CS Peduli (September 2018- Juli 2019) | Media Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad (Februari 2018 - Januari 2019) | Ketua HSI Media (Agustus 2019 - Sekarang)

Check Also

Waapada Banyak Kematian Mendadak Di Akhir Zaman

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : مِنَ اقْتِرَابِ السَّاعَةِ أَنْ يَظْهَرَ مَوْتُ الْفَجْأَةِ “Di antara …

Menghadapi Suami Yang Suka Menjelek-Jelekkan Istri

PERTANYAAN :Saya seorang wanita yang telah menikah sejak berusia 25 tahun. Kini saya telah mempunyai …

Kirim Pertanyaan ke Shahihfiqih.com