Home / Fatwa / Bantahan Terhadap Ucapan: “Bila Hadits Sesuai Akal Maka Ia Shahih dan Bila Tidak, Berarti Tidak Shahih”

Bantahan Terhadap Ucapan: “Bila Hadits Sesuai Akal Maka Ia Shahih dan Bila Tidak, Berarti Tidak Shahih”

PERTANYAAN :
Bagaimana membantah kebid’ahan ucapan seseorang, “Bila suatu hadits sesuai dengan akal maka dia shahih dan bila tidak, berarti tidak shahih?”

JAWABAN :
Bantahannya bahwa ini merupakan tolok ukur yang batil. Bila kita menjadikan akal sebagai pemutus terhadap keshalihan hadits niscaya kita termasuk orang-orang yang mengikuti hawa nafsu mereka. Dengan tolok ukur akal yang bagaimana kita ingin menimbang hadits?
Sebab, terkadang ada orang yang melihatnya menyalahi akal sedangkan orang lain justru melihatnya sesuai dengan akal padahal semua akal itu berbeda-beda, tidak sependapat.

Dan akal yang sehat dan terhindar dari syubhat serta syahwat (hawa nafsu) adalah yang menerima riwayat yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik ia mendapatkan hikmahnya dibalik itu atau pun belum mendapatkannya.

sedangkan siapa saja yang mengucapkan seperti ucapan tersebut maka berarticdia menyembah Allah drngan hawa nafsunya, bukan petunjukNya.

________

👤 Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah

📚 Majmu’ Durus Farawa al-Haram al-Makki, juz 1, hal. 389

About Abdullah bin Suyitno

Seorang tholabul ilmi di bumi Allah. | Kepala Bidang Pendidikan Bimbingan Islam (Agustus 2015 - Maret 2016 Berlanjut Januari 2017- Januari 2018) | Kepala Bidang Dakwah Offline Bimbingan Islam (Agustus 2015 - Maret 2016 Berlanjut Januari 2017- Januari 2018) | Kepala Divisi BiASTV (2017- Juli 2019) | Manajer Program CS Peduli (September 2018- Juli 2019) | Media Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad (Februari 2018 - Januari 2019)

Check Also

Hukum Orang Yang Tidak Memiliki Syaikh (Guru)

PERTANYAAN : Telah santer di kalangan sebagian orang klaim bahwa siapa yang tidak memiliki syaikh …

Bagaimana Mengingkari Kemungkaran Dengan Hati?

PERTANYAAN : Bagaimana mengingkari kemungkaran dengan hati? JAWABAN : Yaitu membenci kemungkaran dan tidak bergaul …

Kirim Pertanyaan ke Shahihfiqih.com